Sawit, Tembakau, dan Orang Terkaya

Published on Mar 17 2010,Page 11 Sawit, Tembakau, dan Orang Terkaya Khudori PEMINAT MASALAH SOSIAL-EKONOMI PERTANIAN DAN GLOBALISASI Article Rank Click here Krisis keuangan boleh terjadi. Tetapi, seain mampu menjaga pertumbuhan ekonomi, sejak 2006 Indonesia secara rutin memproduksi orang terkaya sejagat.Pada majalah Forbes edisi terbaru, tujuh dari 1.000 orang terkaya dunia berasal dari Indonesia. Mereka para pengusaha yang bergerak di berbagai sektor usaha, seperti telekomunikasi, rokok, properti, perbankan, agrobisnis, dan pertambangan. Ada duet kakak-adik Michael Hartono dan R. Budi Hartono (kekayaan US$ 3,5 miliar di peringkat ke-258), Martua Sitorus (US$ 3 miliar, peringkat ke-316), Peter Sondakh (US$ 2,2 miliar, 437), Sukanto Tanoto (US$ 1,9 miliar, 536), Low Tuck Kwong (US$ 1,2 miliar, 828), dan Chairul Tanjung. Ada rahasia menarik, barangkali ini juga kunci, mengapa mereka jadi orang terkaya sejagat. Pertama, sebagian dari pengusaha ini bergerak di sektor non-tradable. (tidak dapat diperdagangkan). Sektor ini meliputi keuangan/perbankan, jasa, perumahan, transportasi dan komunikasi, serta perdagangan/hotel/restoran. Duet Michael dan Budi Hartono adalah pemegang saham terbesar BCA, bank dengan jumlah nasabah terbesar di negeri ini. Keduanya juga memiliki pusat belanja, perkantoran, dan kompleks hotel di pusat Jakarta: Grand Indonesia. Peter Sondakh memiliki saham di Excelcomindo Pratama (XL), usaha telekomunikasi yang tumbuh pesat. Selain bergerak di bisnis keuangan (Bank Mega), Chairul Tanjung memiliki bisnis waralaba, jasa (televisi), dan properti (Bandung Supermall). Data BPS sepuluh tahun terakhir menunjukkan, penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sektor nontradable, bukan sektor tradable (pertambangan, pertanian, dan manufaktur). Akumulasi pertumbuhan sektor non-tradable sungguh pesat (lebih dari 10 persen), melampaui pertumbuhan Cina. Wujudnya, di sana-sini tumbuh gedung perkantoran, hotel, dan pusat belanja baru (mall) yang mewah, serta aneka model telepon seluler laris-manis. Sektor ini bersifat padat modal, padat teknologi, dan padat sumber daya manusia terdidik. Penyerapan tenaga kerjanya tidak sebesar sektor tradable. Makanya, saat ini setiap pertumbuhan 1 persen hanya mampu menyerap 200 ribu tenaga kerja, sementara di era Orde Baru mencapai 400 ribu. Penikmatnya hanya segelintir orang. Kedua, sebagian dari pengusaha ini bergerak di sektor agrobisnis. Duet Michael dan Budi Hartono adalah generasi kedua pabrik rokok Djarum, yang memiliki pangsa pasar ketiga di Indonesia setelah Sampoerna dan Gudang Garam. Peter Sondakh juga menekuni hal yang sama, dengan pabrik rokok Bentoel-nya. Sedangkan Martua Sitorus, Sukanto Tanoto, dan Peter Sondakh merambah bisnis kelapa sawit.Wilmar Internasional milik Martua adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar di Asia, bukan hanya dalam penguasaan kebun, tapi juga perdagangan. Wilmar merupakan perusahaan sawit yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Meskipun baru memulai usaha sawit pada 1994, kapasitas industri hilir (refinery) Wilmar (22 persen) jauh melampaui kompetitornya: Musim Mas Group (16 persen), PHS Group (8 persen), Salim Group (5 persen), Asian Agri (4 persen), dan Sinar Mas (4 persen). Sedangkan pemilik konglomerasi Raja Garuda Mas, Sukanto Tanoto, gurita bisnisnya bergerak dari kertas hingga CPO. Pada 2006 ia jadi orang terkaya negeri ini.Sebenarnya, di antara sektor tradable, pertumbuhan sektor pertanian di atas rata-rata. Namun, terjadi kesenjangan tajam antara subsektor perkebunan serta kehutanan, yang tumbuh 62 persen dan 20 persen, dan subsektor tanaman pangan serta peternakan, yang pertumbuhannya justru merosot. Tahun 2008, misalnya, pertumbuhan subsektor pangan dan peternakan masing-masing minus 5 persen dan minus 3,9 persen. Salah satu komoditas perkebunan yang tumbuh pesat adalah sawit.Tahun 2010 ini diperkirakan produksi CPO Indonesia, dari 7,9 juta hektare lahan sebesar 21 juta ton, 5 juta ton diserap pasar domestik, sisanya diekspor. Saat ini Indonesia tetap bertengger sebagai jawara produsen CPO dan akan memperbesar pangsa pasar dari 47 persen menjadi 50 persen, jauh meninggalkan Malaysia.Sawit adalah satu dari sedikit komoditas ekspor andalan dari nonmigas. Pada 2007, misalnya, CPO berada di peringkat pertama produk ekspor dengan kontribusi 11,13 persen dari total ekspor nonmigas. Selain memupuk devisa, CPO jadi penyumbang besar pajak. Pada 2008, ekspor CPO 16 juta ton dengan nilai US$12,4 miliar. Pemasukan dari pajak ekspor Rp 25 triliun. Saat ini setidaknya 2,8 juta buruh mengais rezeki di kebun sawit. Dengan asumsi satu keluarga beranggotakan empat orang, ada 11,2 juta orang yang nasibnya bergantung pada sawit. Komoditas lain yang menjanjikan adalah tembakau. Jika dijual mentah, harga tembakau amat murah. Namun, jika diolah, dalam bentuk rokok, misalnya, nilai tambahnya luar biasa. Contohnya, cukai rokok yang cengkeh dan tembakaunya 100 persen dipasok petani pada 2008 sebesar Rp 50 triliun. Berapa keuntungan pabrik rokok? Salah satu pelajaran penting dari hal ini adalah, apabila ditangani serius dan benar, pertanian menjanjikan kekayaan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Buktinya, pertanian bisa menjadi tiket meraih predikat orang terkaya sejagat. Kalau pertanian selama ini tidak berkembang, penyebabnya bukan kesalahan petani, melainkan kekeliruan pengambil kebijakan dan pelaku ekonomi lain yang tidak bisa mensyukuri dan mengolah hasil petani. Kalau petani tetap miskin, bukan berarti mereka malas. Buktinya, siapa yang memproduksi pangan untuk 230 juta warga kalau bukan petani? Itu dilakukan di 7,5 juta hektare sawah; 3,6 juta hektare lahan karet; 3,7 juta hektare lahan kelapa; dan ratusan ribu hektare kebun kopi, teh, tebu, lahan kedelai, jagung, serta yang lain. Petani miskin karena selama 400 tahun terakhir evolusi pembangunan selalu dibimbing oleh jiwa yang meniadakan petani/warga sebagai subyek pembangunan. Premis dasar kebijakan yang diyakini adalah, usaha besar memiliki kapasitas lebih tinggi dari petani. Padahal bukti-bukti empiris menunjukkan sebaliknya. Implikasinya, penikmat surplus ekonomi dari sektor pertanian hanyalah segelintir orang: korporasi dan pengusaha besar. Lewat model budidaya monokultur berskema plasma-inti seperti Perkebunan Inti Rakyat, korporasi (inti) sawit memperoleh legitimasi kuat melakukan eksploitasi petani: si lemah (plasma). Ibarat cultuurstelsel, dalam pola plasma-inti berlaku hubungan ekonomi tuan-hamba, majikan-kuli atau patront-client. Petani dan rakyat yang lemah, yang seharusnya dimandirikan, justru dibuat tergantung. Dualisme ekonomi (inti vs plasma, non-tradable vs tradable) ini memiliki konsekuensi serius: pertumbuhan tak dinikmati secara proporsional di antara para pelaku ekonomi. Ini terlihat dari meningkatnya indeks gini: dari 0,32 (2004) menjadi 0,37 (2009). Kesenjangan ekonomi yang makin lebar ini menandakan ada yang salah urus dalam sistem insentif pada perekonomian kita. Tanpa usaha serius merombak sistem insentif kedua sektor ini, kemiskinan dan pengangguran akan tetap jadi masalah laten. Sektor pertanian tetap jadi penampung puluhan juta warga miskin. Ironisnya, ada segelintir orang justru kaya raya. sumber:www.korantempo.com

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: