3 tahun karet sudah dapat disadap

PTPN VII UBS BENGKULU SADAP KARET USIA 3 TAHUN 3 BULAN
Tanggal: Wednesday, 02 May 2007
Topik: ptpn7

Fantastis dan spektakuler! Inovasi yang dilakukan UBS Bengkulu di kebun Padangpelawi menuai hasil yang mengagumkan. Inilah kali pertama dalam sejarah, tanaman karet usia 3 tahun 3 bulan sudah matang sadap. Si “Bongsor” seluas 40 hektare itu diharapkan mampu meneteskan getahnya rata-rata di atas 2.000 kg per hektare per tahun.

Dunia perkebunan karet memasuki babak baru. Jika selama ini rata-rata tanaman karet baru matang sadap (lilit batang lebih 45 cm dengan ketebalan kulit lebih 7,7 cm) rata-rata di atas usia lima tahun, PTPN VII Unit Bisnis Strategis (UBS) Bengkulu berhasil meraih rekor baru. Karet yang ditanam pada Januari 2004, pada April 2007 sudah memenuhi syarat untuk disadap.
Acara buka sadap pertama di Afdeling II Unit Usaha Padangpelawi tersebut dihadiri langsung Direktur Utama PTPN VII Andi Punoko, didampingi Direktur Produksi Erwin Nasution dan Direktur Pemasaran dan Rencana Pengembangan Gatot Bintoro, Komisaris Utama Subagyono bersama anggota Dewan Komisaris, para Manajer Bagian Kandir, dan seluruh manajer unit usaha di Bengkulu.
Buka sadap diawali dengan pemotongan tumpeng oleh Komisaris Utama Subagyono, kemudian diserahkan kepada Dirut Andi Punoko, dan selanjutnya diserahkan kepada Sunardi sebagai penyadap. Berikutnya Pak Dirut dan Pak Komisaris Utama memulai sadap pertama, dilanjutkan petugas penyadap.
Dalam laporannya, Manajer Distrik UBS Bengkulu Sugono Waryanto menjelaskan lahan 40 hektare yang kini menjadi kebun karet siap sadap tersebut mulanya berupa semak belukar. Lahan milik PTPN VII itu pun sebagian besar diokupasi masyarakat. “Waktu menanam karet di sini, saya secara khusus mengajukan permohonan agar bisa ikut pula memanen,” kata Pak Gono, yang waktu itu sebagai manajer UU Pawi.
Doa Pak Gono terkabul, sebab kini masih dipercaya sebagai manajer distrik UBS Bengkulu. Dari awal menanam, memang diusahakan agar karet tersebut bisa dipanen secepatnya. Maka dicarilah klon yang mempunyai pertumbuhan bagus, yaitu PB-260. “Kami berusaha agar tanaman ini tumbuh sebaik-baiknya. Alhamdulillah iklim sangat mendukung sehingga pertumbuhan karet ini boleh dibilang bongsor,” katanya.
Dalam budidaya, Pak Gono dan jajarannya sebenarnya hanya mengulang teknik yang diterapkan para nenek moyang dulu. Kuncinya pada akar dan daun. Karena itu, diterapkanlah sistem kecrok pada pemupukan dan model sanggul untuk merangsang percabangan. Kombinasi perbaikan pada akar dan daun menjadikan pertumbuhan sempurna sehingga tanaman pun bongsor.
Pak Gono menyebut biaya yang dikeluarkan untuk budidaya tersebut, hingga Maret 2007 mencapai Rp24 juta per ha dari estimasi Rp33 juta. Melihat kondisi tanaman karet yang bagus tersebut, perusahaan menaruh harapan besar dari model budidaya itu. “Kami perkirakan produktivitas bisa mencapai 2.000 kg per ha,” Pak Gono optimistis.
Sementara Direktur Utama PTPN VII H. Andi Punoko menyatakan sangat bangga dan memberikan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan Unit Usaha Padangpelawi dan UBS Bengkulu dalam berinovasi. “Ini bisa menjadi model bagi unit usaha lain dalam pengelolaan karet,” katanya.
Dengan masa panen lebih singkat, biaya yang dikeluarkan pun makin kecil. Sekarang yang perlu dibuktikan bagaimana produktivitas karet bongsor itu. “Kita harus memberikan perhatian penuh kepada anak bongsor ini. Perlu treatment serius, sebab sedikit saja terganggu ada kemungkinan akan stres. Jangan sampai baru sepuluh tahun masa sadap, sudah tak produktif lagi.”

Menurut Pak Dirut, salah satu kebiasaan buruk bangsa kita adalah bersemangat ketika membangun. Namun, pemeliharaan sering dilupakan. “Ini yang perlu menjadi perhatian kita semua agar ke depan terus dapat membangun, memelihara, dan menikmati hasil-hasilnya,” dia menambahkan.
Pada kesempatan tersebut Pak Dirut kembali menyampaikan soal perubahan dengan ikon Promosi, yaitu produktivitas, mutu, organisasi, servis, dan inovasi. “Saya melihat UBS Bengkulu sudah memulai perubahan itu. Kita lihat bagaimana kondisi kita pada tahun 1996, proyek Bengkulu kena beban utang Rp150 miliar, padahal asetnya tak lebih Rp100 miliar,” ujarnya.

Waktu itu produksi kebun rata-rata tak sampai 500 kg per ha per tahun. “Kalau tak kuat-kuat, kita bisa lempar handuk dan menyerah. Nah, kini setelah 10 tahun, utang tak lagi tersisa, bahkan kini punya kebun yang menjanjikan,” puji Pak Dirut. Semua ini membuktikan kita telah bekerja keras. Secara umum kinerja makin bagus. Bahkan, Pabrik Pengolahan Karet Padangpelawi kini paling membanggakan dengan harga pokok produksi paling rendah di seluruh PTPN VII.
Karena itu, jika selama lima tahun terakhir (2001—2006) pertumbuhan rata-rata (baik aset, produksi, maupun lainnya) bisa mencapai 15%, lima tahun ke depan harus mampu tumbuh di atas 20%. “Kalau lima tahun ini dengan kerja biasa-biasa saja sudah bisa tumbuh 15%, dengan perubahan mendasar di berbagai bidang kita yakin bisa tumbuh 20%. Dengan pertumbuhan 20%, size kita bisa dua kali lipat lebih besar,” ujar Pak Andi.
Sedangkan Komisaris Utama Ir. H. Subagyono menyebut hasil kerja UBS Bengkulu dalam budidaya karet yang bisa matang sadap dalam usia 3 tahun 3 bulan merupakan inovasi yang perlu mendapatkan penghargaan. “Saya belum pernah mendengar di Indonesia, bahkan di dunia, tanaman karet seusia itu sudah matang sadap,” katanya.
Menurutnya, rekor tersebut perlu dicatatkan ke Museum Rekor Indonesia (Muri). “tapi nanti saja mengundang Pak Jaya Suprana dari Muri, ketika memang sudah dibuktikan produktivitas karet ini bisa mencapai 2.000 kg per ha,” dia menambahkan.
Pak Bagyono pun mengutip pendapat salah seorang pakar karet bahwa ada tiga tipe tanaman karet. Pertama, karet yang pertumbuhannya cepat besar tapi hasil getahnya sedikit; kedua, batangnya kecil tapi getahnya tinggi; dan ketiga, karet dengan pertumbuhan sedang-sedang saja dan hasil getahnya juga sedang-sedang saja. “Mudah-mudahan karet kita ini termasuk tipe yang keempat, yaitu pertumbuhannya bongsor dan hasil getahnya tinggi,” ujarnya.
Inovasi dalam tanaman karet ini hendaknya juga dilakukan di unit-unit lain agar PTPN VII menjadi pioner dalam dunia perkaretan. Saat ini, Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua setelah Thailand. “Untuk areal kita memang yang terluas, tapi produktivitas rendah,” katanya.
Produktivitas karet Indonesia rata-rata hanya 800 kg per ha per tahun (PTPN 1.400 kg), sementara Thaliand rata-rata 2.000 kg per ha dan Vietnam bisa mencapai 3.000 kg per ha. Jadi, tantangan kita pada usaha meningkatkan produktivitas. Sementara harga karet diperkirakan akan tetap stabil, apalagi kini permintaan ke Cina terus meningkat.

Artikel dari Website PTP.Nusantara VII (Persero)
http://mail.ptpn7.com/portal78/

URL:
http://mail.ptpn7.com/portal78//modules.php?name=News&file=article&sid=196

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: