budidaya karet

MANAJEMEN DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA KARET1
Chairil Anwar
Pusat Penelitian Karet
P.O. Box 1415, Medan 2001
PENDAHULUAN
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di
dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20
tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada
tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun
2004. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25
milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas.
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk
pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha
yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan
perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8%
perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun
2005 mencapai angka sekitar 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa
ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani dan
lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap
komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan
pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun
bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal
ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau
pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan
tanaman secara intensif.
1 Disampaikan pada pelatihan “Tekno Ekonomi Agribisnis Karet” tanggal 18 Mei 2006, di Jakarta
oleh PT. FABA Indonesia Konsultan.
2
Pada makalah ini disajikan, (i) prospek dan peluang pasar komoditi karet
alam dilihat dari permintaan dan penawaran karet alam sampai dengan tahun
2035, (ii) manajemen dan teknologi budidaya karet, yang meliputi syarat tumbuh
tanaman karet berdasarkan iklim dan dan kesuburan tanah, klon karet
rekomendasi dan teknik budidaya karet lainnya dari mulai tanam sampai panen,
dan (iii) kebutuhan investasi pengusahaan kebun karet dalam bentuk analisis
kelayakan finansial.
PROSPEK DAN PELUANG PASAR
Karet (termasuk karet alam) merupakan kebutuhan yang vital bagi
kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan
barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban
kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal
karet. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan
dengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif
lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun
harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industri
tetapi diproduksi sebagai komoditi perkebunan.
Pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat pada sepuluh tahun terakhir,
terutama China dan beberapa negara kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin
seperti India, Korea Selatan dan Brazil, memberi dampak pertumbuhan
permintaan karet alam yang cukup tinggi, walaupun pertumbuhan permintaan
karet di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Eropa Barat dan
Jepang relatif stagnan.
Menurut perkiraan International Rubber Study Group (IRSG), diperkirakan
akan terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua dekade ke depan.
Hal ini menjadi kekuatiran pihak konsumen, terutama pabrik-pabrik ban seperti
Bridgestone, Goodyear dan Michellin. Sehingga pada tahun 2004, IRSG
membentuk Task Force Rubber Eco Project (REP) untuk melakukan studi
tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun 2035.
3
Hasil studi REP meyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik
dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non
ban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam. Produksi karet alam pada
tahun 2005 diperkirakan 8.5 juta ton. Dari studi ini diproyeksikan pertumbuhan
produksi Indonesia akan mencapai 3% per tahun, sedangkan Thailand hanya 1%
dan Malaysia -2%. Pertumbuhan produksi untuk Indonesia dapat dicapai melalui
peremajaan atau penaman baru karet yang cukup besar, dengan perkiraan
produksi pada tahun 2020 sebesar 3.5 juta ton dan tahun 2035 sebesar 5.1 juta
ton.
Sejak pertengahan tahun 2002 harga karet mendekati harga US$ 1.00/kg,
dan sampai sekarang ini telah mencapai US$ 1.90kg untuk harga SIR 20 di
SICOM Singapura. Diperkirakan harga akan mencapai US$ 2.00 pada tahun
2007 dan pada jangka panjang sampai 2020 akan tetap stabil, dikarenakan
permintaan yang terus meningkat terutama dari China, India, Brazil dan negaranegara
yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia-Pasifik.
TEKNOLOGI BUDIDAYA KARET
Untuk membangun kebun karet diperlukan manajemen dan teknologi
budidaya tanaman karet yang mencakup, kegiatan sebagai berikut:
• Syarat tumbuh tanaman karet
• Klon-klon karet rekomendasi
• Bahan tanam/bibit
• Persiapan tanam dan penanaman
• Pemeliharaan tanaman: pengendalian gulma, pemupukan dan
pengendalian penyakit
• Penyadapan/panen
4
1. Syarat Tumbuh Tanaman Karet
Pada dasarnya tanaman karet memerlukan persyaratan terhadap kondisi
iklim untuk menunjang pertumbuhan dan keadaan tanah sebagai media
tumbuhnya.
a. Iklim
Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150 LS
dan 150 LU. Diluar itu pertumbuhan tanaman karet agak terhambat
sehingga memulai produksinya juga terlambat.
Curah hujan
Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm
sampai 4.000 mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150
HH/tahun. Namun demikian, jika sering hujan pada pagi hari, produksi
akan berkurang.
Tinggi tempat
Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran
rendah dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut. Ketinggian > 600
m dari permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh tanaman karet.
Suhu optimal diperlukan berkisar antara 250C sampai 350C.
Angin
Kecepatan angin yang terlalu kencang pada umumnya kurang baik
untuk penanaman karet
b. Tanah
Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih
mempersyaratkan sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat kimianya.
Hal ini disebabkan perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat
5
tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan dengan lebih mudah
dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya.
Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet
baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut < 2 m.
Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik terutama struktur,
tekstur, sulum, kedalaman air tanah, aerasi dan drainasenya, tetapi sifat
kimianya secara umum kurang baik karena kandungan haranya rendah.
Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya terutama
drainase dan aerasenya kurang baik. Reaksi tanah berkisar antara pH 3,
0 – pH 8,0 tetapi tidak sesuai pada pH pH 8,0. Sifat-sifat
tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya antara lain :
- Sulum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan
lapisan cadas
- Aerase dan drainase cukup
- Tekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air
- Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir
- Tanah bergambut tidak lebih dari 20 cm
- Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara
mikro
- Reaksi tanah dengan pH 4,5 – pH 6,5
- Kemiringan tanah < 16% dan
- Permukaan air tanah 15 tahun
belum
menutup
mulai
menutup
sudah
menutup
sudah
menutup
sudah
menutup
3-4 kali
2-3 kali
2-3 kali
2 kali
2 kali
Maret, Juni,
September,
Desember*)
Maret,
September,
Juni*)
Maret,
September,
Juni*)
Maret,
September
Maret,
September
1.5 – 2.0 m
1.5 – 2.0 m
2.0 – 3.0 m
2.0 – 3.0 m
2.0 – 3.0 m
16
Program pemupukan
Selain pupuk dasar yang telah diberikan pada saat penanaman, program
pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan dengan
dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun. Jadwal pemupukan
pada semeseter I yakni pada Januari/Februari dan pada semester II yaitu
Juli/Agustus. Seminggu sebelum pemupukan, gawangan lebih dahulu digaru
dan piringan tanaman dibersihkan. Pemberian SP-36 biasanya dilakukan dua
minggu lebih dahulu dari Urea dan KCl. Program dan dosis pemupukan
tanaman karet secara umum dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 2. Rekomendasi Umum Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan
Umur
Tanaman
Urea
(g/ph/th)
SP 36
(g/ph/th)
KCl
(g/ph/th)
Frekuensi
pemupukan
Pupuk dasar – 125 – -
1
2
3
4
5
250
250
250
300
300
150
250
250
250
250
100
200
200
250
250
2 kali/th
2 kali/th
2 kali/th
2 kali/th
2 kali/th
Tabel 3. Rekomendasi Umum Pemupukan Tanaman Menghasilkan
Umur
Tanaman
Urea
(g/ph/th)
SP 36
(g/ph/th)
KCl
(g/ph/th)
Frekuensi
pemupukan
6 – 15
16 – 25
> 25 sampai
2 tahun
sebelum
peremajaan
350
300
200
260
190
-
300
250
150
2 kali/th
2 kali/th
2 kali/th
17
Sementara itu untuk tanaman kacangan penutup tanah, diberikan pupuk RP
sebanyak 200 kg/ha, yang pemberiannya dapat dilanjutkan sampai dengan
tahun ke-2 (TBM-2) apabila pertumbuhannya kurang baik.
Pemberantasan Penyakit Tanaman
Penyakit karet sering menimbulkan kerugian ekonomis di perkebunan
karet. Kerugian yang ditimbulkannya tidak hanya berupa kehilangan hasil akibat
kerusakan tanaman, tetapi juga biaya yang dikeluarkan dalam upaya
pengendaliannya. Oleh karena itu langkah-langkah pengendalian secara terpadu
dan efisien guna memperkecil kerugian akibat penyakit tersebut perlu dilakukan.
Lebih 25 jenis penyakit menimbulkan kerusakan di perkebunan karet. Penyakit
tersebut dapat digolongkan berdasarkan nilai kerugian ekonomis yang
ditimbulkannya. Penyakit tanaman karet yang umum ditemukan pada
perkebunan adalah :
Jamur Akar Putih (Rigidoporus microporus)
Penyakit akar putih disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus (Rigidoporus
lignosus). Penyakit ini mengakibatkan kerusakan pada akar tanaman.
Gejala pada daun terlihat pucat kuning dan tepi atau ujung daun terlipat ke
dalam. Kemudian daun gugur dan ujung ranting menjadi mati. Ada kalanya
terbentuk daun muda, atau bunga dan buah lebih awal. Pada perakaran
tanaman sakit tampak benang-benang jamur berwarna putih dan agak tebal
(rizomorf). Jamur kadang-kadang membentuk badan buah mirip topi berwarna
jingga kekuning-kuningan pada pangkal akar tanaman. Pada serangan berat,
akar tanaman menjadi busuk sehingga tanaman mudah tumbang dan mati.
Kematian tanaman sering merambat pada tanaman tetangganya. Penularan
jamur biasanya berlangsung melalui kontak akar tanaman sehat ke tunggultunggul,
sisa akar tanaman atau perakaran tanaman sakit. Penyakit akar putih
sering dijumpai pada tanaman karet umur 1-5 tahun terutama pada pertanaman
18
yang bersemak, banyak tunggul atau sisa akar tanaman dan pada tanah gembur
atau berpasir.
Pengobatan tanaman sakit sebaiknya dilakukan pada waktu serangan dini
untuk mendapatkan keberhasilan pengobatan dan mengurangi resiko kematian
tanaman. Bila pengobatan dilakukan pada waktu serangan lanjut maka
keberhasilan pengobatan hanya mencapai di bawah 80%. Cara penggunaan
dan jenis fungisida anjuran yang dianjurkan adalah :
Pengolesan : Calixin CP, Fomac 2, Ingro Pasta 20 PA dan Shell CP.
Penyiraman : Alto 100 SL, Anvil 50 SC, Bayfidan 250 EC, Bayleton 250 EC,
Calixin 750 EC, Sumiate 12,5 WP dan Vectra 100 SC.
Penaburan : Anjap P, Biotri P, Bayfidan 3 G, Belerang dan Triko SP+
Kekeringan Alur Sadap (Tapping Panel Dryness, Brown Bast)
Penyakit kekeringan alur sadap mengakibatkan kekeringan alur sadap
sehingga tidak mengalirkan lateks, namun penyakit ini tidak mematikan tanaman.
Penyakit ini disebabkan oleh penyadapan yang terlalu sering, terlebih jika
disertai dengan penggunaan bahan perangsang lateks ethepon. Adanya
kekeringan alur sadap mula-mula ditandai dengan tidak mengalirnya lateks pada
sebagian alur sadap. Kemu-dian dalam beberapa minggu saja kese-luruhan alur
sadap ini kering tidak me-ngeluarkan lateks. Bagian yang kering akan berubah
warnanya menjadi cokelat karena pada bagian ini terbentuk gum (blendok).
Kekeringan kulit tersebut dapat meluas ke kulit lainnya yang seumur, tetapi tidak
meluas dari kulit perawan ke kulit pulihan atau sebaliknya. Gejala lain yang
ditimbulkan penyakit ini adalah terjadinya pecah-pecah pada kulit dan
pembengkakan atau tonjolan pada batang tanaman.
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan:
Menghindari penyadapan yang terlalu sering dan mengurangi pemakaian
Ethepon terutama pada klon yang rentan terhadap kering alur sadap yaitu BPM
1, PB 235, PB 260, PB 330, PR 261 dan RRIC 100. Bila terjadi penurunan kadar
karet kering yang terus menerus pada lateks yang dipungut serta peningkatan
jumlah pohon yang terkena kering alur sadap sampai 10% pada seluruh areal,
19
maka penyadapan diturunkan intensitasnya dari 1/2S d/2 menjadi 1/2S d/3 atau
1/2S d/4, dan penggunaan Ethepon dikurangi atau dihentikan untuk mencegah
agar pohon-pohon lainnya tidak mengalami kering alur sadap.
Pengerokan kulit yang kering sampai batas 3-4 mm dari kambium dengan
memakai pisau sadap atau alat pengerok. Kulit yang dikerok dioles dengan
bahan perangsang pertumbuhan kulit NoBB atau Antico F-96 sekali satu bulan
dengan 3 ulangan. Pengolesan NoBB harus diikuti dengan penyemprotan
pestisida Matador 25 EC pada bagian yang dioles sekali seminggu untuk
mencegah masuknya kumbang penggerek (Gambar 4.10). Penyadapan dapat
dilanjutkan di bawah kulit yang kering atau di panel lainnya yang sehat dengan
intensitas rendah (1/2S d/3 atau 1/2S d/4). Hindari penggunaan Ethepon pada
pohon yang kena kekeringan alur sadap. Pohon yang mengalami kekeringan
alur sadap perlu diberikan pupuk ekstra untuk mempercepat pemulihan kulit.
6. Penyadapan/Panen
Produksi lateks dari tanaman karet disamping ditentukan oleh keadaan
tanah dan pertumbuhan tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi oleh teknik dan
manajemen penyadapan. Apabila ketiga kriteria tersebut dapat terpenuhi, maka
diharapkan tanaman karet pada umur 5 – 6 tahun telah memenuhi kriteria
matang sadap. Kriteria matang sadap antara lain apabila keliling lilit batang pada
ketinggian 130 cm dari permukaan tanah telah mencapai minimum 45 cm. Jika
60% dari populasi tanaman telah memenuhi kriteria tersebut, maka areal
pertanaman sudah siap dipanen.
Tinggi bukaan sadap
Tinggi bukaan sadap, baik dengan sistem sadapan ke bawah (Down ward
tapping system, DTS) maupun sistem sadap ke atas (Upward tapping system,
UTS) adalah 130 cm diukur dari permukaan tanah.
20
Waktu bukaan sadap.
Waktu bukaan sadap adalah 2 kali setahun yaitu, pada (a) permulaan musim
hujan (Juni) dan (b) permulaan masa intensifikasi sadapan (bulan Oktober).
Oleh karena itu, tidak secara otomatis tanaman yang sudah matang sadap lalu
langsung disadap, tetapi harus menunggu waktu tersebut di atas tiba.
Kemiringan irisan sadap
Secara umum, permulaan sadapan dimulai dengan sudut kemiringan irisan
sadapan sebesar 400 dari garis horizontal. Pada sistem sadapan bawah, besar
sudut irisan akan semakin mengecil hingga 300 bila mendekati “kaki gajah”
(pertautan bekas okulasi). Pada sistem sadapan ke atas, sudut irisan akan
semakin membesar.
Peralihan tanaman dari TMB ke TM
Secara teoritis, apabila didukung dengan kondisi pertumbuhan yang sehat dan
baik, tanaman karet telah memenuhi kriteria matang sadap pada umur 5 – 6
tahun. Dengan mengacu pada patokan tersebut, berarti mulai pada umur 6
tahun tanaman karet dapat dikatakan telah merupakan tanaman menghasilkan
atau TM.
Sistem sadap
Dewasa ini sistem sadap telah berkembang dengan mengkombinasikan
intensitas sadap rendah disertai stimulasi Ethrel selama siklus penyadap. Untuk
karet rakyat, mengingat kondisi sosial ekonomi petani, maka dianjurkan
menggunakan sistem sadap konvensional seperti pada tabel berikut :
21
Tabel 4. Bagan Penyadapan Tanaman Karet
Tanaman Umur Sistem Sadap
Jangka Waktu
(tahun)
Bidang
Sadap
Remaja 0 – 5 – - -
Teruna 6-7 s/2 d/3 67% 2 A
8-10 s/2 d/2 100% 3 A
Dewasa 11-15 s/d d/2 100% 4 B
16 – 20 a/2 d/2 100% 4 A’
Setengah tua 21 – 28 2 s/2 d/3 133% 8 B’ + AH
Tua 29 – 30 2 s/2 d/3 133% 4 A” + BH
Catatan: Tanaman karet diremajakan pada umur 31 tahun
Keterangan :
A
B
A
=
=
=
Kulit Murni Bidang A
Kulit Murni Bidang B
Kulit Pulihan pertama A
A “
B’
AH
BH
=
=
=
=
Kulit Pulihan kedua A
Kulit Pulihan pertama B
Kulit Murni atas A
Kulit Murni atas B
Estimasi Produksi
Produksi lateks per satuan luas dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain klon karet yang digunakan, kesesuaian lahan dan
agroklimatologi, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan, sistem dan
manajemen sadap, dan lainnya. Dengan asumsi bahwa pengelolaan kebun
plasma dapat memenuhi seluruh kriteria yang dengan dikemukakan dalam kultur
tehnis karet diatas, maka estimasi produksi dapat dilakukan dengan mengacu
pada standar produksi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat atau
Balai Penelitian Perkebunan yang bersangkutan.
22
Karena produksi kebun karet adalah lateks, maka estimasi produksi per hektar
per tahun dikonversikan ke dalam satuan getah karet basah seperti pada Tabel
berikut :
Tabel 5. Proyeksi Produksi Karet Kering dan Estimasi Produksi Lateks
Tahun
Umur (Th) Sadap
Estimasi produksi
KKK (ton/ha)
Estimasi
Produksi
Lateks (Liter/ha)
6 1 500 2.000
7 2 1.150 4.600
8 3 1.400 5.600
9 4 1.600 6.400
10 5 1.750 7.000
11 6 1.850 7.400
12 7 2.200 8.800
13 8 2.300 9.200
14 9 2.350 9.400
15 10 2.300 9.200
16 11 2.150 8.600
17 12 2.100 8.400
18 13 2000 8.000
19 14 1.900 7.600
20 15 1.800 7.200
21 16 1.650 6.600
22 17 1.550 6.200
23 18 1.450 5.800
24 19 1.400 5.600
25 20 1.350 5.400
26 21 1.200 4.800
27 22 1000 4.600
28 23 1.150 4.000
29 24 850 3.400
30 25 800 3.200
Catatan : Estimasi produksi didasarkan atas asumsi kadar karet kering (KKK) = 25%
KEBUTUHAN BIAYA INVESTASI DAN ANALISIS FINANSIAL
Tanaman karet memerlukan waktu 5-6 tahun untuk dapat disadap, oleh
karena itu pembangunan perkebunan karet memerlukan investasi jangka
panjang dengan masa tenggang 5-6 tahun. Biaya investasi dan pemeliharaan
TBM dan TM dapat dilihat pada Tabel 6 berikut:
23
Tabel 6. Biaya Investasi Karet dan Pemeliharaan TBM dan TM (1 ha)
URAIAN
BIAYA
(Rp/ha)
1. Sertifikasi lahan 400.000
2. Pembukaan lahan dan penanaman (dgn intercrops) 7.449.888
3. Pemeliharaan TBM (th 1-5)
12.664.125
TOTAL BIAYA INVESTASI (TBM) 20.514.013
4. Biaya Pemeliharaan TM: per tahun
Umur 6 – 15 tahun 4.347.500
Umur 16 – 25 tahun 3.774.500
Umur 26 – 28 tahun 3.349.000
Umur 29 – 30 tahun 2.305.750
Dengan asumsi tingkat produksi rata-rata 1.576 kg karet kering/ha/tahun,
harga FOB SIR 20 : US $ 1,50/kg dan kurs: Rp 10.000/US $ (pada bulan
Desember 2005) dan harga di tingkat petani 80% FOB, dilakukan perhitungan
kelayakan finansial usaha perkebunan karet diukur dengan tingkat Internal Rate
of Return (IRR), Net Present Value (NPV) dan B/C ratio. Bila IRR lebih besar
dari tingkat suku bunga yang diberlakukan yaitu 18%, maka usaha perkebunan
karet layak secara finansial. Bila NPV lebih besar dari nol (positif) maka usaha
adalah layak, pada discount rate yang ditentukan yaitu sebesar 18%.
Perhitungan nilai IRR dan NPV berdasarkan pada arus kas selama 30 tahun
dengan asumsi biaya tetap, namun harga jual menggunakan 3 skenario yaitu:
harga naik 20%, harga saat ini dan harga turun 10%, adalah seperti yang tertera
di Tabel 6.
Tabel 6. Hasil Analisa Kepekaan Pembangunan Kebun Karet (1 ha).
Skenario (bunga= 18%) NPV (juta Rp) IRR (%) B/C rasio
Harga jual karet naik 20% 26.6 34.5 1.30
Harga jual karet saat ini (Desember 2005) 19.2 31.5 1.17
Harga jual karet turun 10% 11.7 27.4 1.05
24
Skenario ( bunga = 14%) NPV (juta Rp) IRR (%) B/C rasio
Harga jual karet naik 20% 47.6 34.5 1.33
Harga jual karet saat ini (Desember 2005) 35.8 31.5 1.20
Harga jual karet turun 10% 24.0 27.4 1.07
Tabel 6 menunjukkan bahwa proyek pada tingkat bunga 18% usaha perkebunan
karet masih layak, demikian juga pada saat harga karet turun 20%, nilai NPV
masih positif dan IRR lebih dari 18%. Apabila ada skim kredit yang tingkat
bunganya lebih rendah (14%), maka tingkat kelayakan usaha akan semakin
tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Balai Penelitian Sembawa, 1996. Sapta Bina Usahatani Karet Rakyat
(edisi ke-2). Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa,
Palembang.
2. Balai Penelitian Sembawa, 2005. Pengelolaan Bahan Tanam Karet.
Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, Palembang.
3. Bank Indonesia. 2002. Sistem Informasi Pola Pembiayaan/Lending Model
Usaha Kecil (http://www. bi.go.id/sipuk/lm/ind/karet).
4. Suhendry, I. dan A. Daslin. 2002. Kajian Finansial Penggunaan Klon
Karet Unggul Generasi IV. Warta Pusat Penelitian Karet, Vol. 21, No. 1-
3, p. 18-29.

About these ads

Tag:

3 Tanggapan to “budidaya karet”

  1. zul Says:

    saya sedang membutuhkan ethepon. Kalau di Indonesia bisa didapatkan dimana ya?

    Terimakasih

  2. purcahyopetanisawit Says:

    untiuk bibit karet coba pb 260 sesuai rekomendasi yg pernah saya dapat dari mandor besar ptp di daerah lampung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: